Senin, 10 Oktober 2011

Teori Hegemoni

Hegemoni memiliki arti memimpin, kepemimpinan, atau kekuasaan yang melebihi kekuasaan yang lain. Dalam pengertian dijaman ini, hegemoni menunjukkan sebuah kepemimpinan dari suatu negara tertentu yang bukan hanya sebuah negara kota terhadap negara lain yang berhubungan secara longgar maupun secara ketat terintegrasi dalam negara “pemimpin”. (1) Antonio Gramsci (1891-1937) disepakati oleh banyak ilmuwan sebagai bapak hegemoni. Melalui konsep hegemoni, Gramsci berargumen bahwa kekuasaan agar dapat abadi dan langgeng membutuhkan paling tidak dua perangkat kerja,(2) yaitu :

a. Perangkat kerja yang mampu melakukan tindakan kekerasan yang bersifat memaksa, atau dalam bahasa lunaknya dapat dikatakan bahwa kekuasaan membutuhkan perangkat kerja yang bernuansa law enforcement. Perangkat kerja yang pertama ini biasanya dilakukan oleh dan/atau atas nama lembaga hukum, militer, polisi dan bahkan juga penjara.
b. Perangkat kerja yang mampu membujuk masyarakat banyak beserta pranata-pranatanya untuk taat pada mereka yang berkuasa melalui kehidupan beragama, pendidikan, kesenian, dan bahkan juga keluarga.

    Dalam pengertian lain, hegemoni memiliki beberapa pengertian konsep. Pertama, hegemoni adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan fenomena terjadinya dominasi suatu kelompok terhadap kelompok lain baik dengan atau tanpa kekerasan sehingga ide-ide kelompok yang mendominasi bisa diterima dengan wajar oleh pihak yang didominasi. Yang kedua, dalam hubungan internasional, hegemoni oleh negara yang berkuasa terhadap negara bawahannya dilakukan dengan imprealisme, birokrasi semua aspek dalam kehidupan dan bahkan melalui dakwah agama.

      Ketika hegemoni menjadi sebuah tindakan kekerasan yang bersifat memaksa atau menggunakan perangkat kerja yang bernuansa law enforcement, sebuah negara cendrung menggunakan “hard power” agar kepentingannya dapat tercapai. “Hard Power” dalam pengertian ini bermakna kemampuan suatu negara menggunakan kekuatan yang bersifat militer dan memaksa untuk mencapai tujuan nasional negaranya. (3) Hal ini dapat terlihat dari upaya AS untuk tetap menjaga dominasinya di Afrika sejak abad ke-15 hingga kini.


     Namun, berbeda halnya ketika hegemoni menggunakan perangkat kerja yang mampu membujuk masyarakat banyak untuk mengikuti mereka yang berkuasa. Perangkat kerja yang kedua ini menggunakan “soft power” sebagai ujung tombak untuk melancarkan kekuatan hegemoninya. “Soft Power” sendiri bermakna kemampuan untuk mendapatkan apa yang diinginkan melalui atraksi dan bukan dengan paksaan. (4) Atraksi menurut definisi diatas lebih masuk pada aspek ekonomi, pendidikan, kebudayaan dan kekeluargaan.

Referensi :

1. Nezar Patria & Andi Arief, Antonio Gramsci Negara dan Hegemoni, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003, hal. 115-116
4. Ibid., (“Soft Power” dalam http://www.scribd.com/doc/53416830/Soft-Power,)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar